MAN3PLG.SCH.ID Berita Bystander Bukan Pilihan, Upstander Jadi Gerakan: Pesan Eksplisit MAN 3 Palembang Lawan Bullying

Bystander Bukan Pilihan, Upstander Jadi Gerakan: Pesan Eksplisit MAN 3 Palembang Lawan Bullying

PALEMBANG (Kemenag Sumsel) —

Jumat pagi, 7 Agustus 2026, Lapangan Basket MAN 3 Kota Palembang tidak hanya menjadi tempat berkumpul sebelum pelajaran dimulai. Sekitar pukul 06.40 WIB, sebuah cerita dimainkan di hadapan seluruh civitas akademika. Bukan cerita tentang nilai, ujian, ataupun prestasi, melainkan tentang sesuatu yang mungkin jauh lebih dekat dengan kehidupan murid: bullying.

Ada yang berada di posisi korban. Ada yang mengambil peran sebagai pelaku. Ada pula mereka yang hanya melihat.

Tiga posisi itu kemudian menjadi dua pertanyaan besar yang seolah dilemparkan kepada setiap orang yang menyaksikan: bagaimana rasanya ketika kita menjadi orang yang disakiti? Dan apa yang akan kita lakukan ketika melihat orang lain disakiti?

Drama singkat bertema Stop Bullying itu membuat pesan antiperundungan tidak hadir sebagai deretan nasihat. MAN 3 Kota Palembang memilih membawa persoalan tersebut ke dalam sebuah cerita agar murid tidak hanya mendengar tentang bullying, tetapi mencoba melihatnya melalui mata orang-orang yang berada di dalamnya.

Dari sudut pandang seorang korban, sesuatu yang mungkin dianggap gurauan oleh orang lain dapat memiliki arti berbeda. Ucapan, ejekan, perlakuan merendahkan atau tindakan mengucilkan tidak selalu berhenti ketika kejadian selesai. Karena itulah, melalui drama tersebut murid diajak melihat bahwa dalam sebuah peristiwa bullying, dampak tindakan tidak selalu sama dengan maksud orang yang melakukannya.

Namun cerita pagi itu tidak hanya berbicara tentang korban dan pelaku.

Ada satu posisi lain yang justru menjadi bagian penting dari pesan yang ingin dibangun MAN 3 Kota Palembang: orang yang menyaksikan.

Mereka bisa memilih diam. Bisa ikut menertawakan. Bisa berpaling seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi mereka juga memiliki pilihan lain—berani peduli.

Di sinilah kampanye tersebut menggeser cara pandang murid dari sekadar bystander menjadi upstander. Murid didorong untuk memahami bahwa ketika menemukan tindakan perundungan, keberanian bukan selalu tentang menghadapi pelaku secara langsung. Keberanian juga dapat diwujudkan dengan tidak ikut mempermalukan, mendampingi orang yang membutuhkan dukungan, serta menyampaikan kejadian kepada pihak yang dapat membantu.

Drama yang berlangsung hanya beberapa saat itu akhirnya membawa persoalan bullying keluar dari panggung.

Ia masuk ke dalam kehidupan sehari-hari.

Ke ruang kelas, lorong madrasah, lapangan, percakapan antarteman, hingga candaan-candaan yang selama ini mungkin dianggap biasa.

Dari sinilah sudut pandang kedua muncul. Jika murid diajak melihat bullying dari hubungan antarsesama, MAN 3 Kota Palembang melihatnya sebagai persoalan budaya pendidikan. Madrasah tidak cukup hanya menjadi tempat murid memperoleh pengetahuan, tetapi juga harus menjadi ruang di mana mereka merasa aman untuk belajar, berteman, berekspresi, dan bertumbuh.

Kepala MAN 3 Kota Palembang, Dra. Nuraini Farida, M.Si., membawa pesan tersebut pada nilai yang lebih mendasar. Menurutnya, sikap terhadap sesama tidak dapat dipisahkan dari ajaran yang ditanamkan dalam kehidupan madrasah.

“Islam mengajarkan kita untuk saling menghormati dan menyayangi. Bullying adalah bentuk dzalim. Lewat kampanye drama hari ini, mari kita belajar bersama bahwa setiap anak istimewa dengan caranya sendiri,” ujar Nuraini Farida.

Pesan itu membuat kampanye antiperundungan pagi tersebut tidak hanya berbicara tentang larangan melakukan bullying.

Ada sesuatu yang lebih jauh ingin ditanamkan: bagaimana seharusnya seseorang memperlakukan manusia lainnya.

“Tugas kita bukan menjatuhkan, tapi mengangkat. Tugas kita bukan melukai, tapi memuliakan,” tegas Nuraini.

Kalimat sederhana itu seperti mempertemukan dua sudut pandang yang sejak awal dibangun melalui pentas drama. Dari sisi murid, mereka diajak belajar memahami rasa orang lain. Dari sisi madrasah, seluruh warga MAN 3 Kota Palembang diajak memastikan bahwa tidak ada seseorang yang harus merasa sendirian ketika menghadapi perlakuan yang menyakitkan.

Karena pada akhirnya, lingkungan yang aman tidak tercipta hanya karena ada tulisan “Stop Bullying” di sebuah kampanye.

Ia terbentuk ketika seseorang berhenti menganggap ejekan sebagai hal biasa. Ketika teman berani membela temannya. Ketika orang yang menyaksikan memilih peduli daripada diam. Dan ketika sebuah madrasah menjadikan sikap saling menghormati sebagai budaya, bukan sekadar slogan.

Pentas itu kemudian selesai. Kegiatan belajar mengajar kembali berjalan seperti Jumat-jumat lainnya.

Namun MAN 3 Kota Palembang meninggalkan satu pesan untuk dibawa masuk ke setiap ruang kelas pagi itu: bullying dapat berhenti bukan hanya ketika pelaku berubah, tetapi ketika orang-orang di sekitarnya memutuskan untuk tidak lagi diam. 

  • Penulis/Reporter : Nurhayati Siregar
  • Penyunting :  Andarusni Alfansyur
  • Dokumentasi : Mutiara Astri Diani