PALEMBANG — Prestasi membanggakan di kancah pendidikan internasional kembali ditorehkan oleh tenaga pendidik dari madrasah. Melalui pendekatan pedagogi yang kreatif, ruang interaksi digital sehari-hari berhasil disulap menjadi sarana pembelajaran yang memacu antusiasme siswa dan diakui secara global.
Rian Indriani, S.Ant., guru MAN 3 Kota Palembang secara resmi dinyatakan lolos sebagai presenter dalam ajang bergengsi Global Conference on Education and Research (GLOCER) 2026 yang berbasis di Amerika Serikat. Konferensi internasional ini dijadwalkan berlangsung secara daring pada 4 hingga 6 Agustus 2026. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa inovasi pembelajaran di tingkat madrasah mampu bersaing dan memberikan kontribusi pada diskursus pendidikan global.
Filosofi “Kejepit Pintu” dan Realitas Kelas Virtual
Dalam konferensi tersebut, Rian akan mempresentasikan paper berjudul “Kejepit Pintu”: Emotional Presence, Playful Urgency, and WhatsApp-Based Pedagogy in an Indonesian Madrasah Classroom.
Karya tulis ini mengangkat sebuah metode unik yang lahir dari dinamika kelas virtual di grup WhatsApp. Istilah “Kejepit Pintu” merujuk pada sebuah strategi gamifikasi sederhana di mana guru memberikan batas waktu (hitungan detik) bagi siswa untuk menjawab pertanyaan. Ketika waktu habis, guru akan mengubah pengaturan grup menjadi terkunci (hanya admin yang dapat mengirim pesan).
Siswa yang tidak sempat mengirimkan jawaban sebelum grup dikunci diistilahkan sedang “kejepit pintu”, sebuah momen jenaka yang kemudian ditutup oleh guru dengan mengirimkan stiker bergambar terjepit pintu. Strategi pembatasan waktu inilah yang melahirkan konsep playful urgency—sebuah rasa keterdesakan yang tidak membuat stres, melainkan memacu adrenalin secara positif. Sensasi berpacu dengan waktu ini terbukti memotivasi siswa untuk lebih fokus, berani berekspresi secara cepat, dan terlibat penuh dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Pencapaian inovasi “Kejepit Pintu” ini diraih melalui proses seleksi yang sangat ketat. Paper yang diajukan telah melewati tahapan double-blind peer review, sebuah standar pengujian akademik internasional. Hasil kajian ini dinyatakan diterima (accepted) secara resmi oleh komite GLOCER 2026, menegaskan bahwa metode chat-based learning yang diterapkan memiliki landasan psikologis dan nilai pedagogis yang kuat.
Relevansi dengan Visi Pendidikan Madrasah Era Digital
Pengalaman ini membawa kesimpulan besar: ruang digital yang sudah akrab dengan keseharian siswa dapat bertransformasi menjadi ruang kelas yang hidup, interaktif, dan sarat makna emosional (emotional presence).
Capaian ini sekaligus menjadi representasi nyata dari iklim akademik MAN 3 Kota Palembang yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Di bawah kepemimpinan Dra. Nuraini Farida, M.Si. selaku Kepala Madrasah, inovasi pendekatan yang mengedepankan humanisasi pendidikan di era digital terus difasilitasi dan diapresiasi. Keberhasilan Rian Indriani ini memantik semangat seluruh civitas akademika untuk terus mengeksplorasi potensi pedagogi yang relevan dengan karakter generasi masa kini. (Humas MAN 3 Kota Palembang)
