PALEMBANG — Peringatan Hari Jadi Kota Palembang ke-1343 tahun 2026 ditanggapi secara mendalam oleh Kepala MAN 3 Kota Palembang, Dra. Nuraini Farida, M.Si. Berdasarkan pandangannya, peringatan ini dimaknai lebih dari sekadar perayaan tahunan, melainkan sebagai momentum reaktualisasi peradaban.
“Sebagai Kepala MAN 3 Kota Palembang, saya memandang Hari Jadi Kota Palembang sebagai momentum reaktualisasi peradaban, bukan sekadar selebrasi,” ungkap Dra. Nuraini Farida, M.Si.
Dari kacamata pendidikan Islam, ia menyebutkan bahwa kemajuan kota tidak diukur dari megahnya beton, melainkan dari kesalehan warganya. Oleh karena itu, ia menilai madrasah memiliki peran sebagai benteng utama untuk menyelamatkan mentalitas generasi muda Palembang di era digital melalui pendekatan pendidikan berbasis nilai Al-Qur’an.
Menghidupkan Nilai Sejarah dan Kearifan Lokal
Dra. Nuraini Farida, M.Si, menjelaskan perlunya menghidupkan kembali tiga nilai luhur dari sejarah Palembang di ruang kelas, yaitu wawasan global yang berakar lokal, etos riset, serta moderasi atau tasamuh. Ia merujuk pada sosok ulama dunia asal Palembang, Syekh Abdus Samad al-Falimbani, sebagai contoh pentingnya menyambungkan budi pekerti masa lalu dengan kemajuan masa kini.
“Madrasah memikul mandat moral untuk memutus amnesia sejarah pada generasi digital, menyambungkan kembali keluhuran budi pekerti masa lalu dengan kemajuan masa kini,” tegasnya.
Terkait tantangan digitalisasi, ia memaparkan bahwa murid saat ini rentan mengalami krisis identitas ganda akibat mudahnya menyerap budaya luar melalui internet. Sebagai solusi, MAN 3 Kota Palembang memfasilitasi murid untuk memanfaatkan teknologi secara produktif menjadi produsen konten kebudayaan. Melalui fasilitas ekstrakurikuler, murid ditantang untuk mengemas nilai kebudayaan lokal menjadi karya digital, seperti podcast maupun video dokumenter pendek.
Konsep Humanisasi Pendidikan dan Inovasi Madrasah
Dalam menyokong pembangunan kota, Dra. Nuraini Farida, M.Si, memaparkan penerapan konsep humanisasi pendidikan yang bertujuan menyemai empati, karakter, dan kepedulian sosial pada diri murid.
“Pendidikan tidak boleh sekadar menjadi pabrik pencetak nilai ujian yang tinggi, melainkan tempat menyemai empati, karakter, dan kepedulian sosial,” jelas Dra. Nuraini Farida, M.Si.
Praktik ini diwujudkan melalui program Service Learning atau belajar berbasis pengabdian. Ia mencontohkan pelaksanaannya melalui proyek pengolahan sampah di pinggiran Sungai Musi bagi murid jurusan sains, serta pembukaan kelas mengaji gratis di bawah Jembatan Ampera bagi murid kelas keagamaan.
Selain itu, madrasah juga mengupayakan inovasi Dual-Track System. Sistem ini mengintegrasikan penguatan ilmu agama dengan pembekalan keterampilan masa depan yang tersertifikasi, dengan membuka kelas inkubasi seperti coding, data science, dan robotika.
Menutup penjelasannya terkait HUT Kota Palembang, Dra. Nuraini Farida, M.Si, menyampaikan pesan kepada tiga elemen utama. Kepada para murid, ia mengingatkan agar penguasaan teknologi harus diimbangi dengan adab.
“Jago komputer atau internet itu hebat, tetapi punya attitude (sikap), kejujuran, dan rasa hormat kepada orang tua jauh lebih utama,” pesannya.
Kepada tenaga pendidik, ia mengajak untuk mendidik murid menjadi manusia seutuhnya dengan mengajar menggunakan hati. “Setiap kebaikan yang kita tanam di kelas hari ini adalah modal untuk masa depan Palembang yang lebih baik,” tambahnya. Terakhir, kepada masyarakat dan orang tua, ia meminta adanya kepedulian pada pendidikan anak di rumah, khususnya dalam mengawasi penggunaan ponsel sebagai benteng menjaga anak dari pengaruh buruk dunia luar.
- Penulis/Reporter: Andarusni Alfansyur
- Grafis : Jaya Madhonira
- Penyunting: Tim Humas MAN 3 Palembang
