PALEMBANG — Ketika hiruk-pikuk perayaan duniawi acap kali mewarnai sebuah pergantian tahun, pemandangan kontras dan menyejukkan hati justru tersaji di sudut MAN 3 Kota Palembang. Tepat pada lembar pertama kalender 1 Muharram 1448 Hijriah, Masjid Baitullah yang berdiri megah tak sekadar menjadi tempat persinggahan ibadah rutin. Pagi itu, masjid tersebut bertransformasi menjadi oase spiritual. Ratusan murid asrama, baik putra maupun putri, duduk bersila merapatkan saf, menundukkan kepala, dan melebur dalam keheningan yang syahdu untuk melangitkan dzikir serta doa.
Gema lantunan kalimat thayyibah dan selawat mengalun lembut, mengisi setiap sudut ruang dan menggetarkan sanubari. Bagi anak-anak muda yang tengah menimba ilmu jauh dari dekapan orang tua ini, 1 Muharram bukanlah sekadar angka yang berganti di penanggalan keagamaan. Momen ini adalah sebuah jeda puitis—waktu untuk meletakkan sejenak beban akademik, merenungi jejak langkah yang telah terukir setahun ke belakang, dan merajut kembali niat suci menyongsong hari-hari esok.
Ruang Muhasabah di Tengah Tuntutan Kemandirian
Kehidupan di balik tembok asrama memang menyimpan seninya tersendiri. Ada kemandirian yang harus dipaksa tumbuh, rindu pada rumah yang harus dikelola, dan kedisiplinan yang menjadi napas sehari-hari. Memahami beratnya dinamika batin para murid, Koordinator Asrama Putra MAN 3 Kota Palembang, Maryadi, melihat majelis dzikir ini sebagai sauh atau jangkar emosional yang amat dibutuhkan.
Bagi Maryadi, kegiatan yang merajut benang-benang spiritualitas di momen 1 Muharram ini adalah ruang bernaung bagi para murid untuk bermuhasabah sedalam-dalamnya. Ia memandang bahwa pergantian tahun adalah sebuah titik balik, sebuah injeksi energi baru agar para murid semakin disiplin merawat ibadahnya. Lebih dari itu, ketenangan dari dzikir inilah yang dipercaya mampu meluruskan kembali niat awal mereka saat melangkah ke madrasah—menjadikannya tameng pelindung paling tangguh dalam menghadapi berbagai ujian pergaulan maupun tantangan kehidupan asrama.
Membuka Lembaran Baru dengan Akhlak Terpuji
Di sisi lain, kepompong transformasi karakter dan penanaman kebiasaan baru menjadi denyut nadi utama dalam pendampingan murid putri. Koordinator Asrama Putri MAN 3 Kota Palembang, Nasiroh, meyakini bahwa pijakan pertama di tahun 1448 Hijriah ini adalah kanvas bersih yang sempurna untuk melukiskan perubahan sikap para santriwati.
Lewat kebersamaan batin yang terjalin dalam majelis dzikir tersebut, Nasiroh dan barisan pembina berikhtiar menyemai benih-benih spiritualitas langsung ke palung hati para murid. Rintik siraman rohani di awal tahun ini diharapkan mampu menggugah kesadaran mereka untuk berani meninggalkan kebiasaan lama yang pudar manfaatnya. Ia mengibaratkannya sebagai momentum mulia untuk membuka lembaran kehidupan yang baru, di mana semangat mengejar ilmu dan keanggunan pekerti dipupuk jauh lebih subur dari tahun-tahun sebelumnya.
Saat mentari semakin meninggi, majelis di Masjid Baitullah pun diparipurnakan dengan untaian doa bersama. Tangan-tangan yang menengadah dan ucapan amin yang bergema perlahan menjadi saksi bisu sebuah resolusi yang disaksikan langit. Diiringi napas hijrah 1448 H, para tunas muda asrama MAN 3 Kota Palembang kini tegak berdiri menyusuri tahun ajaran baru; membawa jiwa yang terbasuh ketenangan, akhlak yang disepuh kemuliaan, serta komitmen baja untuk terus mengukir prasasti prestasi.
- Penulis/Reporter: Andarusni Alfansyur
- Penyunting: Tim Humas MAN 3 Palembang
