PALEMBANG — Hingar-bingar perhelatan Piala Dunia 2026 kini tengah melanda berbagai penjuru dunia, tak terkecuali di kalangan pelajar madrasah. Tontonan global ini menyedot perhatian banyak pihak dengan menyajikan aksi-aksi memukau di lapangan hijau. Namun, di balik euforia tersebut, tersimpan nilai-nilai edukasi yang sangat krusial untuk dipetik agar tontonan ini bisa bertransformasi menjadi tuntunan karakter bagi generasi muda.
Menyikapi fenomena ini, Guru PJOK MAN 3 Kota Palembang, Adya Ammar Saputra, S.Pd., memberikan pandangannya terkait makna Piala Dunia bagi pelajar madrasah. Menurutnya, sepak bola sejatinya bukan sekadar urusan mencetak gol, melainkan panggung nyata yang mempertontonkan karakter, sportivitas, dan kerja sama tim. Nilai-nilai inilah yang diharapkan dapat menjadi contoh baik, terutama bagi para siswa yang memiliki cita-cita sebagai atlet profesional.
Mengawal Euforia: Peran Pengawasan dan Disiplin Waktu
Daya tarik sepak bola yang sangat masif di kalangan remaja tentu membawa tantangan tersendiri, terutama terkait manajemen waktu dan emosi. Ammar menyoroti bahwa di sinilah peran pendampingan menjadi sangat vital. Ia menekankan bahwa semua guru termasuk orangtua harus menjadi aktor yang paling aktif dalam memberikan literasi tontonan kepada anak-anaknya.
“Kita semua harus membimbing, terutama anak-anak dan remaja yang masih mencari jati diri. Jangan sampai mereka menonton pertandingan hanya untuk melihat insiden pertengkaran dan perkelahian di lapangan,” tegas Ammar. Ia menambahkan bahwa pendampingan ini penting untuk mengingatkan siswa bahwa esensi olahraga adalah menjaga emosi dan ketahanan mental, bukan sekadar mengejar kemenangan semata.
Tantangan lainnya adalah jadwal pertandingan yang sering kali berlangsung hingga larut malam. Sebagai pelajar, kedisiplinan waktu adalah harga mati. Ammar mengingatkan bahwa terlalu asyik menonton hingga lupa waktu istirahat dapat menurunkan kondisi fisik dan menyebabkan sakit. Oleh karena itu, kontrol orang tua sangat dibutuhkan untuk memastikan anak-anak tetap memahami batasan waktu menonton yang ideal.
Memetik Filosofi Kuda Hitam di Lapangan Hijau
Lebih jauh, turnamen sekelas Piala Dunia adalah miniatur bertemunya berbagai bangsa yang membawa pesan persaudaraan (ukhuwah) dan toleransi. Ammar memaparkan bahwa semangat sportivitas ini terlihat dari bagaimana setiap negara berjuang menjadi juara tanpa adanya rasisme maupun intervensi pihak luar. Sepak bola mengajarkan pesertanya untuk menghargai siapa saja yang berjuang di atas lapangan.
Filosofi perjuangan di lapangan hijau ini sangat relevan untuk diadopsi oleh para siswa dalam menghadapi tantangan akademik. Layaknya tim “kuda hitam” yang kerap membalikkan keadaan lewat taktik dan kerja keras, siswa pun diajak untuk memiliki mentalitas serupa.
“Dalam sepak bola, tidak ada yang tidak mungkin sebelum pertandingan itu selesai. Nilai yang bisa diambil oleh siswa-siswi adalah jika mereka mempunyai cita-cita yang tinggi, jangan pernah menyerah duluan sebelum berani mencoba. Dengan usaha, semangat, dan doa, tidak ada yang tidak mungkin,” urai Ammar.
Sebagai strategi untuk mengelola antusiasme siswa selama musim Piala Dunia ini, Ammar berharap semangat kompetitif tersebut dapat diarahkan pada peningkatan prestasi di Madrasah. Siswa dapat memetik inspirasi dari negara-negara yang awalnya tidak difavoritkan, namun berani tampil maksimal di panggung dunia.
“Sama seperti di Madrasah kita, kalau berani tampil dan mencoba, prestasi pasti akan datang asalkan kita terus konsisten dan rajin berlatih,” tutupnya dengan optimis. (AA)
Penulis : Andarusni Alfansyur
Grafis : Jaya Madhonira
Penyunting: Tim Humas MAN 3 Palembang
