MAN3PLG.SCH.ID Berita Merajut Sunyi, Menenun Harmoni: MAN 3 Palembang Perkuat Moderasi Beragama melalui Pendidikan Terintegrasi

Merajut Sunyi, Menenun Harmoni: MAN 3 Palembang Perkuat Moderasi Beragama melalui Pendidikan Terintegrasi

PALEMBANG (Kemenag Sumsel) — Pendidikan yang ramah dan terintegrasi tidak hanya berbicara tentang capaian akademik, tetapi juga tentang kesempatan setiap murid untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan. Prinsip tersebut diterapkan MAN 3 Kota Palembang melalui pembelajaran keterampilan menjahit yang terbuka bagi murid putra.

Pembelajaran ini menjadi bagian dari upaya madrasah menghadirkan pendidikan yang mengintegrasikan pengetahuan, nilai keagamaan, karakter, dan life skill. Menjahit tidak ditempatkan sebagai keterampilan yang hanya identik dengan perempuan, tetapi sebagai kemampuan praktis yang dapat dipelajari siapa saja sebagai bekal kemandirian.

Melalui pembelajaran tersebut, MAN 3 Kota Palembang juga menanamkan nilai keadilan dan kesetaraan sebagai bagian dari moderasi beragama. Murid diberikan ruang yang sama untuk belajar dan mengembangkan potensi tanpa dibatasi oleh stereotip pekerjaan berdasarkan jenis kelamin.

Guru Keterampilan MAN 3 Kota Palembang, Idawati, S.Pd., menjelaskan bahwa keterampilan menjahit memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar kemampuan membuat atau memperbaiki pakaian.

“Menjahit bukan hanya keterampilan untuk perempuan. Murid putra juga perlu memiliki kemampuan ini karena dapat menjadi bekal untuk kehidupan sehari-hari, melatih ketelitian, kesabaran, kreativitas, dan kemandirian,” ujar Idawati.

Menurutnya, ketika murid diberikan kesempatan mempelajari berbagai keterampilan tanpa membatasi berdasarkan gender, proses pembelajaran menjadi lebih terbuka. Murid dapat mengenali kemampuan dirinya sekaligus belajar menghargai setiap jenis pekerjaan.

Pembelajaran keterampilan juga menjadi ruang bagi murid untuk membangun karakter. Proses menjahit membutuhkan ketelitian dalam mengukur, memotong, menyusun pola hingga menggunakan mesin jahit. Setiap tahapan menuntut kesabaran dan ketekunan agar menghasilkan pekerjaan yang rapi.

“Yang kita bangun bukan hanya keterampilannya, tetapi juga sikapnya. Mereka belajar teliti, sabar, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, dan tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan,” tambah Idawati.

Pendidikan Ramah yang Memberi Ruang bagi Semua

Prinsip kesetaraan tersebut sejalan dengan konsep Pendidikan Unggul, Ramah, dan Terintegrasi yang dikembangkan MAN 3 Kota Palembang. Program tersebut berupaya menghubungkan pembelajaran akademik dengan keterampilan hidup sehingga pendidikan yang diterima murid memiliki manfaat yang lebih nyata dalam kehidupan.

Dalam konteks moderasi beragama, pendidikan kesetaraan tidak sekadar berbicara mengenai kesempatan belajar yang sama, tetapi juga membangun sikap adil, menghargai potensi individu, dan menghindari pembatasan berdasarkan stereotip.

Karena itu, ketika murid putra belajar menjahit, yang dibangun bukan hanya kemampuan teknis. Mereka juga belajar bahwa setiap keterampilan memiliki nilai dan dapat menjadi bagian dari proses membangun kemandirian.

Pembelajaran seperti ini sekaligus memperluas perspektif murid bahwa keterampilan rumah tangga, keterampilan produktif, maupun keterampilan kewirausahaan dapat dikuasai oleh siapa saja.

Dari Keterampilan Menjadi Bekal Kemandirian

MAN 3 Kota Palembang tidak ingin lulusan hanya memiliki kemampuan akademik dan pemahaman keagamaan. Pendidikan juga diarahkan agar murid memiliki keterampilan praktis yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan kehidupan sehari-hari.

Keterampilan menjahit dapat menjadi salah satu bentuk bekal tersebut. Kemampuan sederhana seperti memperbaiki pakaian, membuat produk sederhana, hingga mengembangkan keterampilan menjadi aktivitas produktif dapat membuka ruang bagi murid untuk lebih mandiri.

Hal ini juga memiliki keterkaitan dengan semangat P5RA Kewirausahaan, yang mendorong murid mengenali potensi diri, menghasilkan karya, serta melihat keterampilan sebagai peluang untuk dikembangkan secara produktif.

Dengan demikian, kelas keterampilan menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan kompetensi, karakter, kreativitas, kesetaraan, dan kemandirian.

Moderasi Beragama Hadir dalam Praktik Pendidikan

Pendidikan moderasi beragama di MAN 3 Kota Palembang tidak berhenti pada penyampaian konsep di ruang kelas. Nilai-nilai seperti keadilan, penghargaan terhadap sesama, dan kesetaraan dapat ditanamkan melalui pengalaman belajar sehari-hari.

Pembelajaran menjahit bagi murid putra menjadi salah satu contoh sederhana bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam praktik. Tidak ada pekerjaan yang secara otomatis dilekatkan hanya kepada laki-laki atau perempuan. Setiap murid diberikan kesempatan untuk belajar sesuai kebutuhan dan potensinya.

Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat karakter madrasah sebagai lingkungan pendidikan yang ramah, inklusif, dan terintegrasi, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman.

Pada akhirnya, keterampilan menjahit bukan sekadar tentang benang, jarum, pola, atau mesin jahit. Di MAN 3 Kota Palembang, proses tersebut menjadi bagian dari pendidikan yang mempersiapkan murid agar terampil, percaya diri, mandiri, menghargai kesetaraan, serta mampu menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata.

  • Penulis/Reporter : Nurhayati Siregar
  • Penyunting :  Andarusni Alfansyur
  • Dokumentasi : Jaya Madhonira