MAN3PLG.SCH.ID Berita MAN 3 Palembang Pilih Ikhwan-Akhwat 2026, Dari Panggung Menuju Peran sebagai Teladan

MAN 3 Palembang Pilih Ikhwan-Akhwat 2026, Dari Panggung Menuju Peran sebagai Teladan

PALEMBANG — Sorot lampu di Aula MAN 3 Kota Palembang bukan sekadar menerangi panggung, Kamis (13/8/2026). Di hadapan guru, wali murid, dan warga madrasah, para finalis Ikhwan-Akhwat 2026 berdiri membawa lebih dari sekadar penampilan. Mereka membawa keberanian, wawasan, keterampilan, serta satu tanggung jawab yang kelak melekat pada nama mereka: menjadi duta madrasah.

Langkah demi langkah menyusuri panggung dalam opening number menjadi pembuka perjalanan panjang pada grand final tersebut. Ada yang tampil percaya diri, ada pula yang menyimpan ketegangan di balik senyum. Namun, ketika pertanyaan mulai dilontarkan pada sesi question and answer, setiap finalis dituntut memperlihatkan sesuatu yang tidak dapat dinilai hanya dari penampilan: cara berpikir dan kemampuan menyampaikan gagasan.

Grand Final Ikhwan-Akhwat 2026 memang tidak dirancang hanya untuk mencari siapa yang paling menonjol di atas panggung. MAN 3 Kota Palembang menjadikannya ruang untuk menemukan figur murid yang berprestasi, berakhlak, berwawasan luas, serta mampu menjadi representasi madrasah dalam berbagai kesempatan.

Di antara rangkaian acara, panggung terus berganti warna. Penampilan band menghadirkan sisi musikal, keterampilan tata busana menguji kreativitas, sedangkan koreografi dan tari kreasi memperlihatkan kemampuan para murid bekerja sama dan mengekspresikan gagasan melalui seni. Setiap sesi menjadi bagian dari proses untuk mengenali potensi yang mungkin selama ini belum terlihat di ruang kelas.

Ada pula momen ketika wali murid mendapatkan ruang menyampaikan pesan dan kesan. Kehadiran mereka membuat grand final tidak hanya menjadi perayaan milik para finalis. Guru, murid, dan orang tua bertemu dalam suasana yang sama, menyaksikan bagaimana proses pendidikan dapat berlangsung melalui pengalaman di luar pembelajaran akademik.

Kepala MAN 3 Kota Palembang, Dra. Nuraini Farida, M.Si., memandang gelar Ikhwan-Akhwat sebagai awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Menurutnya, seorang duta madrasah harus mampu menunjukkan kualitas melalui sikap dan kontribusi setelah panggung kompetisi selesai.

“Duta madrasah bukan sekadar gelar, tetapi membawa tanggung jawab untuk menjadi teladan dalam sikap, prestasi, dan karakter. Kami berharap mereka mampu membawa nilai-nilai positif MAN 3 Kota Palembang dalam setiap kesempatan,” ujar Nuraini.

Ketegangan mencapai puncak ketika nama-nama pemenang mulai diumumkan. Faith Athallah Adha akhirnya ditetapkan sebagai Winner Ikhwan, sementara Putri Yusra Juneeta meraih gelar Winner Akhwat. Tepuk tangan mengiringi keduanya ketika hasil perjalanan selama proses pemilihan menemukan titik akhirnya.

Namun, panggung tersebut melahirkan lebih banyak nama dan peran. Muhammad Bintang Athaullah meraih Runner Up Ikhwan dan Aisyah Ikhsani Syuhada menjadi Runner Up Akhwat. Ali Arrafa dan Uliya Humairo masing-masing memperoleh gelar Ikhwan Favorit dan Akhwat Favorit.

Potensi para finalis juga mendapatkan ruang melalui kategori khusus. Farel Ahmad Suhendi dinobatkan sebagai Ikhwan Berbakat, sedangkan Naurah Zharfa Elmira menjadi Akhwat Berbakat. Gelar Ikhwan Photogenic diraih Muhammad Alief Naufal, sementara Ghina Imaroh Kamilah memperoleh gelar Akhwat Photogenic.

Empat nama lainnya membawa mandat yang lebih spesifik. Aisyah Anindya Asdi dipercaya sebagai Duta ICT, Khairani Adilah Putri sebagai Duta Bahasa, Rayhan Aulia Wijaya sebagai Duta Anti Narkoba, dan Ihsan Alsa Putra sebagai Duta Keagamaan. Gelar-gelar tersebut sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk berkontribusi sesuai bidang masing-masing.

Nuraini berharap seluruh penerima gelar tidak berhenti pada selempang, penghargaan, maupun seremoni. “Kami ingin gelar ini diwujudkan melalui tindakan nyata, keteladanan, serta kontribusi positif bagi lingkungan madrasah,” katanya.

Ketika rangkaian grand final berakhir, panggung perlahan kembali lengang. Nama-nama pemenang telah diumumkan dan tepuk tangan telah reda. Namun, bagi Ikhwan-Akhwat MAN 3 Kota Palembang 2026, perjalanan sesungguhnya justru baru dimulai.

Sebab menjadi duta bukan hanya tentang bagaimana seseorang tampil ketika semua mata memandang. Lebih jauh dari itu, ia diuji melalui cara bersikap ketika tidak ada panggung, cara memberi pengaruh kepada lingkungan, serta keberanian menjadi teladan dalam keseharian. Dari Aula MAN 3 Kota Palembang, para duta muda itu kini membawa satu tugas baru: menjadikan gelar yang mereka peroleh benar-benar bermakna.

  • Penulis/Reporter : Nurhayati Siregar
  • Penyunting :  Andarusni Alfansyur
  • Dokumentasi : Jaya Madhonira